November 01, 2015

Antara Pikiran Visioner dan Sikap Mahasiswa Saat Ini

     Hari ini, Mingu 1 November 2015 hari yang begitu melelahkan untuk bermanja-manja dengan kasur dan laptop. Memang setiap akhir pekan aku selalu menyempatkan diri untuk merenung apa yang telah aku lakukan, yang telah aku dapatkan selama seminggu bernafas dan melakukan aktifitas. Akhirnya aku menemukan sesuatu hal yang menggelitik untuk dibahas, yaitu masalah visioner atau berpikiran tentang masa depan. Masa depan memang tidak ada satupun dari kita yang mengetahuinya, tetapi berpikir saat ini dan melakukan apapun saat ini bisa berimplikasi pada kejadian yang akan datang. 
      Melihat kehidupan remaja, khususnya bagi mahasiswa dengan organisasinya. Aku melihat seperti ada kemunduran pemikiran dan mungkin juga tindakan. Aku tidak akan menjustifikasi dan menggeneralisasi semua remaja yang saat ini mashasiswa mempunyai sikap yang mundur. Tetapi memang beberapa hari terakhir aku menyaksikan bahwa mahasiswa saat ini cenderung tidak berpikir secara visioner dalam beberapa hal, terutama dalam hal sosial kemasyarakatan. Aku memperhatikan memang ada kecenderungan manusia di Indonesia terlalu tinggi gengsinya dan mungkin juga aku adalah salah satunya. Beberapa mahasiswa berfikir, jika ia ikut dalam sebuah organisasi yang besar maka ilmu dan pengalaman yang akan diterimanya juga besar, jika membuat acara dengan banyak sponsor dan mengundang banyak orang untuk menonton maka ia beranggapan acaranya sukses. Anggapan tersebut memang benar, tetapi benar dalam tataran yang normatif dan sangat biasa.

    Aku tidak menemukan jiwa persaingan dalam diri mereka, sama sekali! Mereka hanya mencari aman dari apa yang terjadi di dunia global pada umumnya. Lalu, apakah visioner yang aku maksud adalah yang tidak mengikuti perkembangan zaman? Tidak juga, karena semua yang di dunia ini mempunyai kaitan yang universal. Visioner? Tentu! Karena semua hal itu mempunyai awalan dan diikuti perkembangan-perkembangannya. Kemajuan teknologi adalah salah satu contoh yang tidak bisa ditolak, dari telepon kabel hingga ponsel nirkabel. Tetapi salah satu hal yang membuat pergerakan remaja-remaja mahasiswa ini seolah olah mundur adalah minimnya terobsan dari dalam diri mereka sendiri. Seolah-olah mereka hype dan merasa paling moderen serta mengikuti perkembangan zaman dari apa yang mereka lihat di Youtube, mereka baca di Twitter dan apa yang mereka lihat di Instagram. Melakukan hal yang saat ini sedang happening adalah sebuah bentuk modernitas, visioner dan tidak akan lekang oleh zaman.
     Kemunduran pemikiran tersebut sebenarnya menjadi penghambat dari perkembangan bangsa ini ke depannya. Mahasiswa yang benar-benar visioner secara sikap dan tindakan saat ini sudah jarang ditemui. Organisasi-organisasi yang seharusnya memancing untuk mereka berfikir melampaui apa yang dipikirkan oleh orang lain saat ini menjadi ajang doktrinasi. Merencanakan sebuah program kerja hanya terkesan melanggengkan kelembagaan yang ada. Dimana bedanya ketika BEM tingkat Universitas meyelenggarakan sebuah seminar nasional dan BEM Fakultas menyelenggarakan hal serupa? Mungkin hanya dari sisi hierarki organisasinya. Aku tidak menuntut hal lebih, hanya saja menyayangkan ketika seorang mahasiswa berdalih "Aku ingin menjadi pengurus BEM Universitas, agar aku mendapatkan ilmu yang lebih agar pengalamanku banyak". Hal tersebut adalah alasan dari banyak mahasiswa yang menurutku tidak visioner, karena dia tidak berani menantang dirinya untuk melakukan hal lebih. Hanya berani berjalan pada jalan yang mulus saja, jalan yang telah dibuat orang lain bukan dari jalan yang dia rintis sendiri. Bukan berati aku menganggap semua yang berfikiran seperti itu adalah orang yang tidak maju dalam pikiran dan tindakan, tetapi alangkah lebih baik jika banyak orang yang berfikir "Aku akan merintis jalan yang terjal ini, agar orang lain yang melewatinya setelah aku merasakan indahnya jalan yang telah aku rintis ini". Analoginya, ketika semua orang berfikir seperti itu, akan banyak jalan yang baik dan bagus untuk dilalui oleh orang lain juga. Tidak hanya ada satu jalan yang bagus yang diperebutkan oleh banyak orang. Tetapi terdapat banyak jalan, sehingga distribusi ilmu dan pengalaman akan tersebar sama baiknya, bukan terpusat dan hanya satu satunya. Percayakah kamu bahwa manusia di dunia ini semakin hari semakin banyak? Jika iya, beranilah untuk membuat jalanmu sendiri atau belajarlah untuk memperbaiki jalan yang terjal. Ingatlah bahwa Pengalaman adalah Guru yang Terbaik dan Pengalaman Terbaik adalah Pengalaman Diri Sendiri, pengalaman orang lain adalah bumbu bukan 100% jalan hidup kita!
Hidup Mahasiswa Indonesia! Selamat Hari Sumpah Pemuda!. - @faisholat

2 komentar:

  1. Hmm, menarik Sob. Mencari jalan yang "rusak" dan memilih memperbaiki supaya orang lain bisa lewat dengan lancar dan mudah.

    Senin kemarin (7/12/15) Saya bertemu dengan rekan kerja lama namanya Wawan. Kita sharing banyak hal mulai dari kegiatan pekerjaan dan kehidupan keluarga.

    Satu hal yang membuat saya agak malu ketika beliau menasehati saya supaya mengimbangi untuk tak hanya berhenti mempelajari mimpi dan teori, tetapi juga berorganisasi dan mewujudkan mimpi tersebut menjadi nyata. Kalau sudah tahu visi (tujuan) dan teorinya itu berarti prosesnya 20% tercapai tinggal 60% lagi inisiasi (praktek) dan 20% lagi inovasi dan pengembangan. Kata beliau.

    Saya yakin kita semua punya banyak cita-cita dan mimpi besar yang ingin diwujudkan, tentu saja untuk mewujudkannya perlu bekerja sama berkumpul dengan orang-orang yang punya misi hidup yang sama.

    Well, sak jeke kuliah Aku ya ra gabung karo BEM baik itu tingkat fakultas maupun universitas. Nah sekarang mulai mafhum (sadar) pentingnya jaringan untuk mewujudkan ide-ide tersebut (baik berkiprah untuk masyarakat, maupun ide berwirausaha).

    Oh iyo balek nang kancaku kuwi mau, meski memang dia jauh lebih tua 6 tahun. Di akhir perjumpaan dia menunjukkan tabungan pribadinya (hasil keringat sendiri) tujuannya untuk memotivasi ku yang jumlahnya cukuplah untuk hidup mandiri melanjutkan pendidikan lagi.

    Dari situ saya dapat menarik kesimpulan, apapun bentuk ide dan cita-cita kita, akan tetap menjadi cita-cita saja kalau tidak segera diwujudkan, dan untuk mewujudkannya nggak cukup dengan tenaga sendiri perlu relasi (bantuan orang lain), dan sikap pantang menyerah. Hehe peace : Sekedar sharing,
    Sakwise kuliah ameh gawe kegiatan opo Sol, awakmu? Sharing-sharing lah karo konco-konco sopo ngerti iso menei inspirasi oh iyo sorry durung sempet dolan-dolan kosan Gejayan maneh hehe......... Salam :)


    BalasHapus
    Balasan
    1. haha iyo Zis, asline raeneng sik terlambat ataupun terlewat. Alloh wes ngatur kabeh, gur gari awakdewe mau merubah diri kita sesuai dengan kemampuan kita "yang sebenarnya" atau enggak. Alloh sudah memberikan tanda-tanda. Awakdewe tinggal berjuang. haha
      Dolan wae rene, kadang cah-cah yo rene sok do diskusi juga. Urip, skripsi, dll. hehehe

      Hapus