Sore tadi, saya sempat mengobrol dengan salah satu dosen saya yang mempunyai anak kelas 3 SMP di salah satu sekolah swasta dengan basis agama. Beliau menceritakan bahwa salah satu sekolah berbasis agama yang lain, untuk uang pangkal hampir menyentuh angka 20juta. Beliau juga membandingkan antara biaya masuk SMP dan Universitas yang cukup kontras, UKT dari salah satu jurusan di Universitas ternama hanya sekitar 6,5juta. Dilihat dari latar belakang orang tua yang menyekolahkan anaknya ke sekolahan tersebut, maka bisa disimpulkan bahwa sekolah tersebut memang dikhususkan untuk golongan atas dengan biaya pendidikan yang melimpah. Oke saya disini tidak akan mempermasalahkan keluaran siswa dari sekolah tersebut, jika memang sekolah tersebut tidak menggunakan embel-embel agama sebagai latar belakang pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Pandai, berakhlaq atau bodohnya seorang siswa tergantung dari bagaimana siswa tersebut mau ikut berproses dan atau sadar dengan tugas utamanya di sekolah.
Hal yang menggelitik di benak saya adalah, ketika sekolahan berbasis agama dengan biaya yang mahal mengharapkan setiap siswanya menjadi siswa yang berakhlaq. Saya merasa ragu, meskipun tidak 100%. Karena hanya orang kaya yang bisa menyekolahkan anaknya di sekolahan tersebut.
Ada semacam porsi sosial yang terabaikan di sini, kondisi yang homogen
akan melekat dalam kepribadian siswa. Apalagi mereka di usia
anak-anak dan remaja, dimana mereka dalam proses bertumbuh dan
seharusnya mengenal konsisi sosial yang heterogen. Saya tidak mendiskreditkan orang kaya dengan dana pendidikan melimpah untuk menyekolahkan anaknya di mana saja dan tidak menganggap orang kaya secara keseluruhan tidak berakhlaq atau tidak beragama yang baik. Tetapi dari sisi sekolahnya sebagai institusi. Institusi pendidikan berbasis agama dengan biaya yang relatif mahal akan tetap membuat kelas dan klasifikasi tersendiri seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya.
Saya mempunyai teman-teman yang berlatar pendidikan sekolah berbasis agama dengan biaya yang mahal. Outputnya beragam, sama seperti sekolah yang lain. Saya tidak anti ataupun melarang sekolahan berbasis agama menarik biaya yang mahal, karena memang statusnya swasta dan dari sisi keuangan berbeda dengan sekolahan berembel-embel negeri. Saya juga tidak melarang orang tua dengan biaya pendidikan yang unlimited untuk menyekolahkan anaknya di sekolah berbasis agama dengan biaya mahal. Tetapi saya masih merasa kurang etis ketika mencampur adukkannya menjadi satu. Memang dari beberapa orang beranggapan bahwa agama adalah sesuatu yang melekat dan multi dimensi. Justru dari situlah pikiran tidak etis saya muncul, ketika agama dianggap sebagai sesuatu yang fleksibel, mengapa dalam prakteknya menjurus pada kesan eksklusifitas? Apakah jaminan dengan biaya mahal akhlaq akan menjadi baik? Belum tentu! Apakah sekolahan berbasis agama yang biasa-biasa saja menjamin akhlaq seorang siswa menjadi rendah? Belum tentu juga!
Harapan saya, ketika memang ingin membuat sebuah sekolah berbasiskan agama, hendaknya di resapi dulu makna dari posisi agama yang hendak dilekatkan dalam sekolahan tersebut. Akankah memunculkan eksklusifitas? Akankah hanya akan mengejar kebesaran nama sekolah?
Tulisan ini adalah opini pribadi saya, melihat dari sudut pandang pribadi dan beberapa orang yang terkadang mengangkap skeptis serta menganggap kultus sekolah berbasis agama dengan biaya yang mahal sehingga memunculkan Eksklusifitas. - @faisholat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar