November 03, 2015

Agama, Institusi Pendidikan dan Eksklusifitas

Sore tadi, saya sempat mengobrol dengan salah satu dosen saya yang mempunyai anak kelas 3 SMP di salah satu sekolah swasta dengan basis agama. Beliau menceritakan bahwa salah satu sekolah berbasis agama yang lain, untuk uang pangkal hampir menyentuh angka 20juta. Beliau juga membandingkan antara biaya masuk SMP dan Universitas yang cukup kontras, UKT dari salah satu jurusan di Universitas ternama hanya sekitar 6,5juta. Dilihat dari latar belakang orang tua yang menyekolahkan anaknya ke sekolahan tersebut, maka bisa disimpulkan bahwa sekolah tersebut memang dikhususkan untuk golongan atas dengan biaya pendidikan yang melimpah. Oke saya disini tidak akan mempermasalahkan keluaran siswa dari sekolah tersebut, jika memang sekolah tersebut tidak menggunakan embel-embel agama sebagai latar belakang pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Pandai, berakhlaq atau bodohnya seorang siswa tergantung dari bagaimana siswa tersebut mau ikut berproses dan atau sadar dengan tugas utamanya di sekolah.

November 01, 2015

Antara Pikiran Visioner dan Sikap Mahasiswa Saat Ini

     Hari ini, Mingu 1 November 2015 hari yang begitu melelahkan untuk bermanja-manja dengan kasur dan laptop. Memang setiap akhir pekan aku selalu menyempatkan diri untuk merenung apa yang telah aku lakukan, yang telah aku dapatkan selama seminggu bernafas dan melakukan aktifitas. Akhirnya aku menemukan sesuatu hal yang menggelitik untuk dibahas, yaitu masalah visioner atau berpikiran tentang masa depan. Masa depan memang tidak ada satupun dari kita yang mengetahuinya, tetapi berpikir saat ini dan melakukan apapun saat ini bisa berimplikasi pada kejadian yang akan datang. 
      Melihat kehidupan remaja, khususnya bagi mahasiswa dengan organisasinya. Aku melihat seperti ada kemunduran pemikiran dan mungkin juga tindakan. Aku tidak akan menjustifikasi dan menggeneralisasi semua remaja yang saat ini mashasiswa mempunyai sikap yang mundur. Tetapi memang beberapa hari terakhir aku menyaksikan bahwa mahasiswa saat ini cenderung tidak berpikir secara visioner dalam beberapa hal, terutama dalam hal sosial kemasyarakatan. Aku memperhatikan memang ada kecenderungan manusia di Indonesia terlalu tinggi gengsinya dan mungkin juga aku adalah salah satunya. Beberapa mahasiswa berfikir, jika ia ikut dalam sebuah organisasi yang besar maka ilmu dan pengalaman yang akan diterimanya juga besar, jika membuat acara dengan banyak sponsor dan mengundang banyak orang untuk menonton maka ia beranggapan acaranya sukses. Anggapan tersebut memang benar, tetapi benar dalam tataran yang normatif dan sangat biasa.